Kalau satu pertanyaan bisa terjawab
hanya dalam beberapa detik oleh Artificial Intellegence, mengapa kita harus
berpikir? pertanyaan seperti itu pernah terlintas dalam kepala saya, ketika
tugas menumpuk saya berjuang untuk menyelesaikannya. Mata saya sudah lelah
begitupun dengan pikiran saya karena ide yang tak kunjung muncul. Dan seperti
biasa, saya membuka chatbot AI, mengetik prompt, dan selesai begitu saja tanpa
berpikir panjang. Memang mudah namun terasa kosong.
Sebagai mahasiswa yang hidup di tengah
era kemajuan teknologi, saya merasa hidup di antara dua dunia. Tuntutan
akademik hingga organisasi yang memerlukan pemikiran kritis dan hadirnya alat
yang menawarkan efisiensi tanpa batasan. Namun dibalik semua kemudahan
teknologi, saya mulai bertanya pada diri saya sendiri, apakah saya masih
benar-benar berpikir?
Ketika Semua Jawaban Datang Terlalu Cepat
Saya masih ingat jelas ketika tugas
menumpuk di tengah semester. Ada satu tugas yang seharusnya bisa dicari di
jurnal ataupun melihat tugas kating sebagai bahan referensi. Namun yang saya
lakukan saat itu malah langsung membuka AI dan menuliskan perintah
singkat.
Hasilnya memukau bahkan bisa dibilang
runtut dan jelas daripada harus susah payah membaca jurnal yang memakan waktu
panjang. Tetapi setelah saya berpikir kembali dan melihat tulisan tersebut
bukan ide dari hasil pemikiran sendiri, saya merasa kosong dan aneh. Saya mulai
sadar tiap kali saya menyerahkan proses berpikir ke mesin, ada bagian dari diri
saya yang ikut tumpul.
Saat Pikiran Bertumpu pada Mesin
Dosen saya pernah bilang “jangan hanya
tahu jawaban instan, tapi pahami permasalahannya juga.” Tapi dalam realita
kampus hari ini, kalimat tersebut terasa usang. Banyak dari teman kampus
termasuk saya, lebih tertarik pada hasil yang cepat daripada proses yang
panjang. Saya tidak menolak teknologi tapi justru mengaguminya.
Terkadang saya memaknai teknologi
seperti obat, jika digunakan tanpa sadar teknologi bisa membuat candu
pemakainya. Dan jika kita terlalu
sering dimanjakan oleh jawaban instan, lama kelamaan kita bisa kehilangan skill
untuk membaca, menganalisis, bahkan hanya untuk sekadar bertanya.
Proses yang Hilang, Makna yang Tergerus
Dulu saat SMA, saya selalu mengerjakan makalah maupun tugas dengan pikiran saya sendiri, saya mengalami banyak fase bingung, kesal, penasaran, sampai akhirnya paham. Proses itu memang melelahkan, tetapi justru di sanalah ilmu melekat. Namun saat saya mulai menggantikan proses itu dengan hasil instan dari AI, hasilnya sangat cepat dan tidak membuat stress, tapi seakan diri saya malah tidak berkembang.
Saat itu saya sadar, berpikir itu bukan hanya soal hasil. Tapi berpikir
itu soal menumbuhkan pemahaman. Memahami bukan hanya tahu, tapi juga mengolah.
Dan pengolahan itu membutuhkan waktu, tenaga, bahkan kegagalan.
Kembali Melatih untuk Berpikir
Beberapa minggu terakhir, saya mencoba kembali ke jalur semula dengan perlahan. Bukan berarti menolak teknologi, tapi menggunakannya setelah saya berpikir terlebih dahulu. Saya mulai mengerjakan tugas menulis laporan tanpa bantuan apapun, baru kemudian menyempurnakannya. Terkadang saya juga berdiskusi dengan banyak teman saya dan mulai membaca serta menelaah jurnal milik orang lain untuk penyempurnaan tugas saya.
Hasilnya memang tidak secepat saat saya menggunakan AI (artificial
intelligence) sepenuhnya. Saya bisa merasakan kembali pikiran saya bergerak
dipenuhi ide-ide lagi. Ada nyeri di punggung karena harus mengerjakan dalam
waktu lama, namun dibalik perjuangan itu saya merasa puas dengan apa yang saya
kerjakan.
Berpikir bukan Sekadar Pintar, Tapi Sadar
Teknologi bisa berpikir cepat, tapi hanya manusia yang bisa berpikir
dalam. Ada perbedaan besar antara pintar karena tahu banyak dan bijak karena
memahami makna itu sendiri. Dan kemampuan untuk menyelami makna hanya bisa
dimiliki oleh mereka yang terbiasa berpikir kritis.
Ketika kita berhenti berpikir, kita bukan hanya kehilangan keahlian,
tapi juga kehilangan kemanusiaan kita.
Saya percaya bahwa berpikir adalah bagian dari menjadi manusia. Merasa
bingung, mempertanyakan, meragukan, itu semua bukan kelemahan, tapi kekuatan
kita sebagai makhluk yang sadar.
Antara Mesin dan Manusia
Kehidupan mahasiswa seharusnya menjadi ruang untuk melatih seseorang berpikir kritis, bukan hanya sekadar untuk mengejar nilai tinggi. Apalagi saat ini, kita dihadapkan pada kemajuan teknologi yang bisa memberi jawaban cepat dan mudah. Terkadang saya mulai merasa tidak sepenuhnya memahami apa yang saya lakukan. Saya membaca tanpa mencerna, menulis tanpa merasa dan menjawab tanpa bertanya. Perlahan, menjadi asing dengan kemampuan sendiri untuk berpikir.
Saya percaya, berpikir adalah hak istimewa manusia. Mesin bisa meniru logika, tetapi tidak bisa merasakan ragu. Mesin bisa membuat suatu argumen, tapi tidak bisa merasakan keraguan eksistensial. Mesin bisa menangkap pola tertentu, tapi tidak bisa bertanya "Apa makna dari semua ini?"
Tidak bisa
kita bantah bahwa di masa depan kita memang harus hidup berdampingan dengan
mesin. Cara terbaik untuk bertahan adalah dengan terus berpikir. Karena dengan
berpikir, kita tetap menjadi manusia. Mesin bisa menggantikan banyak hal, tapi
tidak bisa menggantikan kesadaran kita untuk mencari makna. Dan selama kita
masih mau berpikir, kita masih punya harapan.
Penulis: Muhammad Fachri Ramlih

Posting Komentar