Saat
langit di kota Seoul mendung, tetapi lebih mendung hati para penggemar K-pop.
Saat kabar duka menyebar begitu cepat seperti angin. Sulli mantan anggota girl
group f(x) ditemukan tak bernyawa akibat ketikan jahat orang-orang. Dunia K-pop
terdiam, seakan berkabung dengan kematian yang tiba-tiba itu. Tak sedikit yang
bertanya, apakah benar kata-kata bisa membunuh seseorang?
Pada
era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang tidak bisa
dipisahkan dari kehidupan. Dengan akses yang sangat cepat, siapa saja bisa
mengekspresikan pendapat mereka dengan bebas dalam hitungan detik. Namun, di
balik semua kemudahan itu terdapat konsekuensi yang cukup besar. Komentar yang
seharusnya membangun dapat berubah menjadi sebuah senjata mematikan.
Fenomena
hate comment, bullying digital, dan ujaran kebencian kini bukan lagi hal
yang asing. Dengan berjuta-juta pengguna aktif di platform seperti Instagram,
TikTok, dan X, dunia maya kini berubah menjadi medan perang verbal. Kisah Sulli,
Goo Ha-ra dan Kim Sae- Ron menjadi salah satu contoh pahit dari ketidaksadaran
etika dalam berkomentar di media sosial.
Sulli dan Ketikan yang Menghakimi
Salah satu dampak tragis dari buruknya etika di media sosial dapat kita lihat dari kasus Sulli. Aktris asal Korea Selatan ini menjadi pembicaraan hangat publik setelah ia mengunggah foto tanpa bra di media sosialnya. Dia melakukan hal ini sebagai bentuk ekspresi feminisme dan juga kebebasan tubuh. Namun dibalik kebebasan itu, tak sedikit orang yang menghujatnya habis-habisan.
Banyak sekali komentar
negatif yang mengarah pada penghinaan dirinya seperti, “Dia cuma pelacur
berkedok idol”. Komentar seperti inilah yang menunjukkan betapa bebasnya
seseorang berkomentar di media sosial tanpa memperdulikan etika.
Padahal
Sulli secara terbuka mengaku, bahwa dirinya menderita depresi dan gangguan
panik akibat komentar tersebut. Dalam wawancaranya, Sulli mengatakan bahwa dia
merasa sangat kesepian serta sering menangis. Ia juga mengaku bahwa dirinya
mendapat penghakiman dari banyak orang, seolah apapun yang dia lakukan pasti
salah.
Dia
mungkin terlihat kuat, tapi kita tidak mengetahui bahwa dia menyimpan luka yang
amat dalam. Kita harus bertanya pada diri sendiri, apakah komentar yang kita
tulis itu sebuah masukkan atau justru racun yang mematikan?
Ketika Dihapus dari Dunia Maya
Sulli
tidak hanya berhadapan dengan komentar negatif orang-orang. Tetapi dia juga
menjadi sasaran dari apa yang kini dikenal sebagai cancel culture. Suatu
budaya mengucilkan seseorang secara masal dari dunia maya karena telah dianggap
melakukan sesuatu yang salah. Dari yang awalnya hanya mendapatkan kritikan, perlahan
sulli mendapat tekanan sosial bahkan dia sampai harus keluar dari anggota girl
group f(x).
Dalam
cancel culture, tekanan publik tidak hanya berhenti pada kritik, tetapi berubah
menjadi boikot hingga hinaan yang masif. Sulli yang menjadi korban nyata pun
sulit menjalani kehidupan nyata maupun kehidupan maya. Karena setiap langkah
yang dia ambil akan selalu salah di mata orang lain. Di sinilah masalah besar
pada dirinya muncul, cancel culture menjadikan seseorang sulit untuk mendapat
ruang dialog, klarifikasi maupun pertumbuhan pribadi.
Etika berkomentar seharusnya menjadi penting disini. Karena etika bukan sekadar aturan formal melainkan kesadaran moral, bahwa setiap komentar yang kita tulis mempunyai konsekuensi yang nyata. Bayangkan bagaimana jika orang itu memiliki kehidupan yang tidak kita ketahui.
Komentar yang kita berikan sebagai candaan
atau kritikan biasa dapat mempengaruhi kondisi mental seseorang seperti Sulli.
Karena hal inilah banyak public figure yang mendapat tekanan mental. Tak sedikit
pula juga dari mereka yang mundur dari dunia hiburan, bahkan sampai harus
meregang nyawa.
Sebuah Pilihan dalam Berkomentar
Terkadang
kita sering memandang media sosial sebagai ruang tanpa batasan. Bebas
berkomentar ataupun berpendapat dimana saja. Banyak yang lupa bahwa kebebasan seseorang
itu datang bersama dengan tanggung jawab. Karena kata kata bukan hanya sebuah
kalimat biasa, tetapi mereka adalah energi yang bisa membangun atau
menghancurkan seseorang.
Etika
berkomentar mengajarkan untuk membedakan kritik konstruktif dengan serangan
pribadi. Jika saja setiap orang bisa membedakan hal ini, sudah pasti media
sosial menjadi ruang yang aman dan positif. Dengan begitu, bisa memberi ruang
bagi keberagaman pendapat tanpa harus menjatuhkan orang lain dengan komentar
yang negatif.
Kasus
sulli menjadi contoh pahit bagaimana dunia maya dapat berubah menjadi pisau
bermata dua. Di saat kita tidak peduli dengan etika berkomentar, disitulah kita
memberi ruang bagi kebencian tumbuh dan menyebar. Kita perlu mengingat bahwa
setiap komentar baik atau buruk adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk menyakiti
atau menyembuhkan seseorang. Di dalam dunia digital yang serba cepat ini,
kesadaran akan etika perlu kita jaga agar teknologi tidak menjadi senjata
mematikan.
Saat Diam Lebih Manusiawi
Dalam
hal ini kita dapat memperbaiki, dimulai dari diri kita sendiri. Sebelum
mengirim komentar yang kita buat, alangkah baiknya kita tanyakan, apakah ini
membangun atau malah menjatuhkan mental seseorang?
Sulli
mungkin sudah tiada, tetapi kisahnya menjadi pengingat bahwa dunia maya bukan
ruang kosong tanpa batas. Di dalamnya terdapat manusia nyata dengan hati yang
patah oleh komentar yang kita anggap biasa saja.
Mari
kita berpikir dan merenungkan sejenak tentang hal ini. Apakah kita ingin
menjadi bagian dari luka yang membunuh, atau bagian dari cahaya yang
menyembuhkan. Karena ketika kata lebih tajam dari pisau, diam pun menjadi
pilihan kita untuk lebih manusiawi.
Penulis: Muhammad Fachri Ramlih

Posting Komentar