Terkadang
kita sering melupakan tentang attitude dalam sebuah pertemanan. Memang
terdengar sepele, namun dari hal-hal kecil itu bisa membuat kita merasa dihargai
dalam sebuah lingkup pertemanan.
Dalam
kehangatan tawa di warung kopi dan sunyinya percakapan daring di larut malam.
Terdapat hal yang tak kasatmata mengikat dengan lebih sekadar dari tawa dan
basa-basi, ia bernama etika. Dia diam-diam menjaga relasi agar tetap utuh,
karena tanpanya hubungan pertemanan bisa terasa hambar, bahkan rapuh tanpa kita
sadari.
Kita
memang jarang mengerti akan hal ini, mungkin karena kita sudah merasa akrab
dengan teman sendiri. Padahal justru kedekatan itulah yang menuntut kita untuk
lebih hati-hati. Teman sejatinya adalah cermin, ia memantulkan siapa diri kita,
tanpa riasan dan tanpa naskah di dalamnya. Dan etika adalah cara kita menjaga
cermin itu agar tetap bersih dan jernih.
Retak yang Bermula dari Hal Sederhana
Dalam
sebuah pertemanan terkadang kita menemui batas-batas yang tak tertulis. Salah
satunya tidak terlalu akrab dengan gebetan atau pasangan teman. Alban, seorang
mahasiswa bercerita tentang pengalaman-nya, dia merasa jengkel saat temannya
terlalu akrab dengan gebetannya. Situasi yang dianggap sepele oleh sebagian
orang. Hal yang seperti inilah yang bisa membuat retak suatu hubungan
pertemanan.
Pada
momen lain dia juga bercerita tentang temannya yang hanya ingin didengarkan,
tanpa memberi ruang yang sama. Ketika dia menceritakan tentang hari yang berat,
temannya hanya menimpali, “itumah masih mending, lah gua!” lalu berlanjut lebar
tentang dirinya sendiri. Di satu sisi, kita ingin maklum mungkin dia juga lagi
butuh perhatian. Tapi di sisi lain, kita merasa tidak dilihat sebagai manusia
yang juga punya rasa.
Etika dalam pertemanan inilah yang justru
ditemui dari hal-hal kecil. Seperti menyimak curhatan teman dengan serius atau
bahkan ikut merasakan apa yang teman kita alami.
Teman yang Hadir Tapi Menguras Energi
Tidak
semua pertemanan itu memberi energi, karena ada juga yang menguras emosi. Seorang
mahasiswi dari sebuah perguruan tinggi negeri, bercerita tentang kelompok
pertemanan kecilnya. Dia merasa kalau omongan terhadap dirinya berbeda ketika
dia tidak ada diantara mereka. “Bingung banget sama temanku itu, beda banget
omongannya kalo aku gaada. Cape aku nanggepinnya juga”.
Situasi
ini mungkin akrab bagi kebanyakan orang. Dalam hubungan pertemanan yang sehat,
ada yang namanya keseimbangan dalam menerima dan memberi. Namun ketika satu
pihak terlalu sering "mengambil” tanpa sadar, maka relasi tersebut menjadi
timpang.
Inilah
penting bagi kita mempunyai kesadaran etika dalam relasi sosial. Banyak orang
takut untuk membicarakan batasan di sebuah pertemanan karena takut dianggap
“Baperan”. Padahal, justru keberanian untuk bicara itulah merupakan bentuk
hubungan yang dewasa.
Etika di Balik Layar
Pertemanan
tidak hanya selalu dalam bentuk dunia nyata, tetapi juga terhubung secara
daring. Di satu sisi ini adalah suatu bentuk kemudahan dari komunikasi, namun
disisi lain hal ini merupakan tantangan tersendiri dalam menjaga etika. Etika
seakan menjadi kabur saat kita dibalik layar.
Salah
satunya soal privasi, mengambil tangkapan layar obrolan pribadi tanpa izin.
Membahas hal sensitif di grup atau bahkan tidak membalas pesan dengan alasan “belum
sempat megang hp”. Padahal di media sosialnya sendiri sedang online. Media
sosial seolah jadi ruang bebas, padahal seharusnya nilai dasar etika tetap perlu
diterapkan.
Seorang
perempuan yang aktif di komunitas pecinta alam pernah bercerita, bahwa dia
mendapat komen yang tidak senonoh di media sosialnya. Dia mendapat kiriman
komen itu yang ternyata berasal dari teman laki-lakinya di media sosial. Ini menjadi
bukti bahwa di media sosial pun, sopan santun akan etika masih sangat
diperlukan.
Maka
dari itu etika digital dalam berteman berarti memperlakukan teman kita dengan
tanggung jawab yang sama seperti ketika bertatap muka. Jangan karena ada
batasan kita jadi merasa bebas melakukan apapun tanpa memikirkan dampaknya.
Bertumbuh Bersama, Bukan Saling Menghakimi
Salah
satu hal yang terlupakan juga adalah bahwa sebuah pertemanan butuh ruang tumbuh
bersama. Saling belajar memperbaiki diri, membantu saat sedang kesulitan dan
yang paling mendasar adalah mau mendengarkan satu sama lain.
Dalam
pertemanan, mendengarkan teman kita curhat bukan berarti kita diam saja. Tetapi
kita harus menyimak cerita teman kita dengan hati secara utuh. Jangan
menghakimi mereka apalagi membandingkan nya dengan masalah kita. Mendengarkan
teman adalah bentuk penghargaan paling sederhana yang bisa kita berikan.
Seorang
mahasiswa jurnalistik pernah mengatakan, bahwa menurutnya etika paling dasar
itu adalah rasa hormat. Kalau kita mempunyai sikap seperti itu kepada teman,
udah pasti kita gabakal menghubungi mereka cuma pas butuh, tidak akan menyela
mereka depan publik apalagi diam saat mereka ada masalah.
Dia
juga menambahkan bahwa banyak yang paham akan etika namun mereka lupa untuk menerapkannya.
Karena mereka berpikir 'teman pasti mengerti', padahal pengertian itu bukan
alasan untuk bersikap seenaknya. Jadi jangan sesekali menjadikan teman sebagai
tempat pelarian tetapi jadikan ia sebagai ruang untuk bertumbuh.
Memperbaiki Lubang Yang Retak
Tidak
ada kata terlambat dalam memperbaiki sebuah etika, karena etika bisa dipelajari
perlahan-lahan. Hal pertama yang bisa kita lakukan adalah introspeksi diri kita
sendiri untuk mulai menghargai teman kita dengan lebih sadar. Apakah kita sudah
menjadi teman yang etis? Atau hanya datang ketika kita sedang butuh saja?
Ruang
komunikasi juga merupakan hal yang penting. Sampaikan dengan jujur tetapi tetap
sopan jika ada sikap teman kita yang menangganggu. Sebaliknya kita juga harus
terbuka akan sebuah masukan dari teman kita. Karena tidak semua teguran adalah
sebuah serangan, bisa jadi itu merupakan cermin untuk kita memperbaiki diri.
Etika
dalam pertemanan bukan berarti harus sempurna. Tapi dengan adanya kesadaran
untuk terus memperbaiki itulah yang membuat hubungan menjadi lebih sehat.
Karena sejatinya teman yang baik bukan yang selalu sependapat, tetapi yang
saling menjaga meski sedang tidak sejalan.
Sebuah Penutup Kecil
Hal
sederhana yang harus kita pahami dalam proses dewasa adalah adab pertemanan.
Bagaimana cara menghargai teman kita walaupun kita pikir kita sudah dekat. Kita
harus paham mulai dari hal-hal kecil dan sepele yang kadang kita anggap biasa,
bisa jadi itu nyakitin hati teman kita.
Menghargai bukan berarti merendah diri, melainkan menghargai menjadi bukti betapa berilmu, berakal, dan berbudi nya seseorang. Ada batasan dan ada juga sifat saling, saling butuh dan saling membantu tetapi tidak selalu sifat itu beriringan dan seimbang. Maka dari itu menjaga hubungan pertemanan yang sehat bisa dimulai dari diri sendiri dan dari hal-hal sederhana.

Posting Komentar