Tantangan Menjaga Pertemanan di Era Digital

Ilustrasi Pertemanan (Klik Indonesia/Muhammad Fachri Ramlih)

Terkadang kita sering melupakan tentang attitude dalam sebuah pertemanan. Memang terdengar sepele, namun dari hal-hal kecil itu bisa membuat kita merasa dihargai dalam sebuah lingkup pertemanan.


Dalam kehangatan tawa di warung kopi dan sunyinya percakapan daring di larut malam. Terdapat hal yang tak kasatmata mengikat dengan lebih sekadar dari tawa dan basa-basi, ia bernama etika. Dia diam-diam menjaga relasi agar tetap utuh, karena tanpanya hubungan pertemanan bisa terasa hambar, bahkan rapuh tanpa kita sadari.


Kita memang jarang mengerti akan hal ini, mungkin karena kita sudah merasa akrab dengan teman sendiri. Padahal justru kedekatan itulah yang menuntut kita untuk lebih hati-hati. Teman sejatinya adalah cermin, ia memantulkan siapa diri kita, tanpa riasan dan tanpa naskah di dalamnya. Dan etika adalah cara kita menjaga cermin itu agar tetap bersih dan jernih.


Retak yang Bermula dari Hal Sederhana

Dalam sebuah pertemanan terkadang kita menemui batas-batas yang tak tertulis. Salah satunya tidak terlalu akrab dengan gebetan atau pasangan teman. Alban, seorang mahasiswa bercerita tentang pengalaman-nya, dia merasa jengkel saat temannya terlalu akrab dengan gebetannya. Situasi yang dianggap sepele oleh sebagian orang. Hal yang seperti inilah yang bisa membuat retak suatu hubungan pertemanan.


Pada momen lain dia juga bercerita tentang temannya yang hanya ingin didengarkan, tanpa memberi ruang yang sama. Ketika dia menceritakan tentang hari yang berat, temannya hanya menimpali, “itumah masih mending, lah gua!” lalu berlanjut lebar tentang dirinya sendiri. Di satu sisi, kita ingin maklum mungkin dia juga lagi butuh perhatian. Tapi di sisi lain, kita merasa tidak dilihat sebagai manusia yang juga punya rasa.


 Etika dalam pertemanan inilah yang justru ditemui dari hal-hal kecil. Seperti menyimak curhatan teman dengan serius atau bahkan ikut merasakan apa yang teman kita alami.


Teman yang Hadir Tapi Menguras Energi

Tidak semua pertemanan itu memberi energi, karena ada juga yang menguras emosi. Seorang mahasiswi dari sebuah perguruan tinggi negeri, bercerita tentang kelompok pertemanan kecilnya. Dia merasa kalau omongan terhadap dirinya berbeda ketika dia tidak ada diantara mereka. “Bingung banget sama temanku itu, beda banget omongannya kalo aku gaada. Cape aku nanggepinnya juga”.


Situasi ini mungkin akrab bagi kebanyakan orang. Dalam hubungan pertemanan yang sehat, ada yang namanya keseimbangan dalam menerima dan memberi. Namun ketika satu pihak terlalu sering "mengambil” tanpa sadar, maka relasi tersebut menjadi timpang.


Inilah penting bagi kita mempunyai kesadaran etika dalam relasi sosial. Banyak orang takut untuk membicarakan batasan di sebuah pertemanan karena takut dianggap “Baperan”. Padahal, justru keberanian untuk bicara itulah merupakan bentuk hubungan yang dewasa.


Etika di Balik Layar

Pertemanan tidak hanya selalu dalam bentuk dunia nyata, tetapi juga terhubung secara daring. Di satu sisi ini adalah suatu bentuk kemudahan dari komunikasi, namun disisi lain hal ini merupakan tantangan tersendiri dalam menjaga etika. Etika seakan menjadi kabur saat kita dibalik layar.


Salah satunya soal privasi, mengambil tangkapan layar obrolan pribadi tanpa izin. Membahas hal sensitif di grup atau bahkan tidak membalas pesan dengan alasan “belum sempat megang hp”. Padahal di media sosialnya sendiri sedang online. Media sosial seolah jadi ruang bebas, padahal seharusnya nilai dasar etika tetap perlu diterapkan.


Seorang perempuan yang aktif di komunitas pecinta alam pernah bercerita, bahwa dia mendapat komen yang tidak senonoh di media sosialnya. Dia mendapat kiriman komen itu yang ternyata berasal dari teman laki-lakinya di media sosial. Ini menjadi bukti bahwa di media sosial pun, sopan santun akan etika masih sangat diperlukan.


Maka dari itu etika digital dalam berteman berarti memperlakukan teman kita dengan tanggung jawab yang sama seperti ketika bertatap muka. Jangan karena ada batasan kita jadi merasa bebas melakukan apapun tanpa memikirkan dampaknya.


Bertumbuh Bersama, Bukan Saling Menghakimi

Salah satu hal yang terlupakan juga adalah bahwa sebuah pertemanan butuh ruang tumbuh bersama. Saling belajar memperbaiki diri, membantu saat sedang kesulitan dan yang paling mendasar adalah mau mendengarkan satu sama lain.


Dalam pertemanan, mendengarkan teman kita curhat bukan berarti kita diam saja. Tetapi kita harus menyimak cerita teman kita dengan hati secara utuh. Jangan menghakimi mereka apalagi membandingkan nya dengan masalah kita. Mendengarkan teman adalah bentuk penghargaan paling sederhana yang bisa kita berikan.


Seorang mahasiswa jurnalistik pernah mengatakan, bahwa menurutnya etika paling dasar itu adalah rasa hormat. Kalau kita mempunyai sikap seperti itu kepada teman, udah pasti kita gabakal menghubungi mereka cuma pas butuh, tidak akan menyela mereka depan publik apalagi diam saat mereka ada masalah.


Dia juga menambahkan bahwa banyak yang paham akan etika namun mereka lupa untuk menerapkannya. Karena mereka berpikir 'teman pasti mengerti', padahal pengertian itu bukan alasan untuk bersikap seenaknya. Jadi jangan sesekali menjadikan teman sebagai tempat pelarian tetapi jadikan ia sebagai ruang untuk bertumbuh.


Memperbaiki Lubang Yang Retak

Tidak ada kata terlambat dalam memperbaiki sebuah etika, karena etika bisa dipelajari perlahan-lahan. Hal pertama yang bisa kita lakukan adalah introspeksi diri kita sendiri untuk mulai menghargai teman kita dengan lebih sadar. Apakah kita sudah menjadi teman yang etis? Atau hanya datang ketika kita sedang butuh saja?


Ruang komunikasi juga merupakan hal yang penting. Sampaikan dengan jujur tetapi tetap sopan jika ada sikap teman kita yang menangganggu. Sebaliknya kita juga harus terbuka akan sebuah masukan dari teman kita. Karena tidak semua teguran adalah sebuah serangan, bisa jadi itu merupakan cermin untuk kita memperbaiki diri.


Etika dalam pertemanan bukan berarti harus sempurna. Tapi dengan adanya kesadaran untuk terus memperbaiki itulah yang membuat hubungan menjadi lebih sehat. Karena sejatinya teman yang baik bukan yang selalu sependapat, tetapi yang saling menjaga meski sedang tidak sejalan.


Sebuah Penutup Kecil

Hal sederhana yang harus kita pahami dalam proses dewasa adalah adab pertemanan. Bagaimana cara menghargai teman kita walaupun kita pikir kita sudah dekat. Kita harus paham mulai dari hal-hal kecil dan sepele yang kadang kita anggap biasa, bisa jadi itu nyakitin hati teman kita.


       Menghargai bukan berarti merendah diri, melainkan menghargai menjadi bukti betapa berilmu, berakal, dan berbudi nya seseorang. Ada batasan dan ada juga sifat saling, saling butuh dan saling membantu tetapi tidak selalu sifat itu beriringan dan seimbang. Maka dari itu menjaga hubungan pertemanan yang sehat bisa dimulai dari diri sendiri dan dari hal-hal sederhana. 







Penulis: Muhammad Fachri Ramlih

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama