ilustrasi mendengar diri sendiri (Source/Pinterest)
Duduk di sudut kamar sambil menatap layar ponsel yang sudah terlalu lama menyala. Cahaya birunya memantul di mataku yang lelah, tapi aku tidak beranjak. Aku terus scroll ke atas dan ke bawah. Seperti hidup yang cuma terdiri dari dua arah saja yaitu naik dan turun namun entah mengapa, lebih sering turun.
Dalam gumamku “kenapa kita harus hidup seperti ini,” kata-kata tersebut seperti berharap ada algoritma yang menjawab, tapi aku tahu itu mustahil. Internet hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat, bukan apa yang kita butuhkan.
Suara yang Membebani
Aku menarik nafas panjang, menutup layar, dan membiarkan keheningan mengisi ruangan. Namun, itu bukan keheningan yang tenang, karena di kepalaku ribuan suara berlomba untuk digapai. "Kamu harus sukses sebelum usia 25," "kamu harus punya passion," "kamu harus bahagia," dan "kamu harus tahu apa yang kamu inginkan".
Lucu, bukan? Generasi kami, generasi Z, sering disebut sebagai generasi yang punya segalanya. Teknologi, kebebasan, koneksi tanpa batas semuanya tersedia. Tapi, bukankah itu hal yang ironis? dalam dunia yang katanya saling terhubung ini, aku malah merasa terasingkan.
Bayangan dan Keraguan
Setiap hari, aku dihantui bayangan orang-orang yang tampaknya tahu tujuan hidup mereka. Mereka punya bakat, mimpi, pencapaian yang dibagikan di feed mereka. Aku? Aku hanya punya keraguan.
Aku sering bertanya-tanya, kapan terakhir kali aku benar-benar mendengar diriku sendiri? Aku terlalu sibuk mendengarkan apa yang dunia katakan padaku apa yang harus kupakai, apa yang harus kulakukan, bagaimana aku harus hidup. Dan semakin keras dunia berbicara, semakin sunyi suaraku sendiri.
Kebisingan yang Disembunyikan
Aku tahu aku tidak sendirian, karena mungkin banyak dari kalian yang diam-diam merasa seperti ini. Tapi kalian tidak membicarakannya. Kalian hanya menutupi rasa cemas dengan filter, menenggelamkan kesedihan dalam musik yang terus mengalun di earphone, atau mengalihkannya dengan sosial media tanpa akhir.
Namun malam ini, di keheningan yang penuh kebisingan ini, aku memutuskan untuk berhenti sejenak dan ingin mendengar suaraku lagi. Aku menutup mata, menarik nafas panjang, dan membiarkan pikiranku mengalir seperti tinta di atas kertas. Tidak ada filter dan tidak ada tekanan. Hanya aku dan pikiranku.
Menemukan Suara Sendiri
Aku membuka mata, merasa sedikit lebih ringan. Dunia mungkin tidak akan berhenti berbicara, tapi aku bisa memilih untuk mendengarkan apa yang benar-benar penting yaitu suaraku sendiri.
Karena di tengah kebisingan ini, aku sadar bahwa menemukan diri sendiri bukan tentang mengejar apa yang dunia katakan. Tetapi tentang mendengar suara kecil di dalam dirimu yang selama ini kamu abaikan. Dan mungkin, itu lebih dari cukup.
"Kamu tidak perlu menjadi versi sempurna dari dirimu yang mereka inginkan. Kamu cukup ada. Itu sudah cukup."
Penulis: Muhammad Fachri Ramlih

Posting Komentar